Kamis, 21 Mei 2015

PROFIL WANITA DALAM KABA

PROFIL WANITA DALAM KABA
Hermawan
 Pendahuluan
Profil wanita Indonesia pada saat iii dapat digambarkan sebagai manusia yang hams hidup dalam situasi dilematis. Maksudnya di sate sisi wanita Indonesia dituntut untuk berperan dalam semua sektor, tetapi di sisi lain muncul pula tuntutan lain agar wanita tidak melupakan kodratnya sebagai wanita. Misalnya wanita Indonesia yang berkarir. Wanita karir iii, di satu sisi merasa terpanggil untuk mendarmabaktikan bakat dan keahliannya bagi perkembangan bangsa dan negara Indone­sia. Di sisi lain mereka dihantui oleh opini yang ada dalam masyarakat yang melihat bahwa wanita karir/ibu karir sebagai salah satu sumber ketidakberhasilan pendidikan anaknya dan yang sangat memprihatinkan adalah opini di kalangan masyarakat yang melihat bahwa wanita karir adalah "pengganggu suami orang lain" (Soetrisno, dalam Ridjal, 1993: 108).
Menurut Armini (1986: 45) wanita pekerja tercitra sebagai wanita yang berada dalam situasi ambivalen atau berwajah Banda. Di satu sisi wanita pekerja ingin memupus anggapan bahwa tugas utama wanita adalah di sektor domestik, tetapi di sisi lain anggapan itu dikokohkan. Kemudian di satu sisi wanita pekerja ingin mengubah pandangan kedudukan wanita tidak setara dengan pria, tetapi di sisi lain wanita justru bertindak sebaliknya.
Lebih lanjut diungkapkan Lokman Soetrisno bahwa terjadinya dilematis wanita Indonesia tersebut disebab oleh pertama, bahwa Indo­nesia adalah salah satu negara yang pluralistik dari segi etnik dan kebudayaannya; kedua, situasi dilematis yang saat iii dihadapi oleh wanita Indonesia merupakan hasil dari suatu proses interaksi dari berbagai faktor sosial dan politik yang berkembang si negara Indonesia; tiga, adanya pluralisme etnik dan kebudayaan itu maka tidak mungkin secara adhock membuat suatu pendapat yang mengeneralisir bahwa wanita In­donesia sejak semula memiliki kedudukan yang rendah tanpa mempelajari kedudukan wanita dalam konteks kebudayaan dari masing­masing suku bangsa yang di bumi nusantara ini. Wanita Minangkabau tidak dapat disangkal lagi memiliki kedudukan yang sederajat dengan lelaki bahwa dalam kebudayaan Minangkabau wanita justru mempunyai kedudukan yang jauh lebih tinggi dari pada kaum lelaki karena mereka dianggap penjaga dari harta pusaka keluarga (Soetrisno dalam Ridjal, 1993: 108).
Masyarakat Minangkabau memiliki keunikan bila dibanding dengan masyarakat kultur lainnya di Indonesia. Keunikan iii disebabkan oleh paham matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau yang mengambil garis keturunan menurut garis ibu. Dengan paham yang dianutnya iii, peranan dan kedudukan wanita menjadi lebih panting di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau (Asri, 1996: 3). Pentingnya posisi wanita dalam keluarga juga diungkapkan oleh Holleman dan Vreede-De Stuers (dalam Baried, 1994: 6) yang mengatakan bahwa wanita dalam sistem matrilineal, yaitu menurut garis keturunan ibu, kedudukan wanita panting karena di tangannyalah kehidupan keturunan tergantung. Dalam sistem ini pihak wanita adalah memegang keutusan dan berwenang menentukan kebijaksanaan. Untuk melihat bagaimana peranan dan kedudukan wanita Minangkabau dalam kehidupan masyarakat dengan konsepsi budaya adatnya akan dilakukan penelitian melalui karya sastranya yaitu kaba.
Kaba, salah satu karya sastra tradisional Minangkabau, secara langsiung atau tidak tentu akan memberikan gambaran tentang kultur ;Minangkabau termasuk wanita dan segala aspek kehidupannya. Ini sesuai dengan pendapat Damono (1979: 1) yaitu bahwa karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, 'dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sejalan dengan itu, H.B. Jassin (1983: 4) mengemukakan bahwa karya sastra selalu menarik perhatian karena mengungkapkan penghayatan manusia yang paling dalam, dalam perjalanan hidupnya di segala zaman dan di segala tempat di dunia ini. Melalui karya sastra sebagai basil kesenian, kita memasuki dunia pengalaman bangsa dan bangsa-bangsa dalam sejarah dan masyarakatnya, menyelami apa yang pernah dipikirkan dan dirasakan dan dengan demikian menambah kearifan dan kebijaksanaan dalam kehidupan.
Menurut Soeratno (1994: 14) sastra dipahami sebagai sara­na "penghibur duka lara", sebagai pembawa rasa tenang, sebagai "pelipur hati bagi yang memendam cinta berahi", sebagai "perintang-perintang waktu", sebagai dokumen penyaji informasi masa lampau, sebagai legitimasi suatu kekuasaan, sebagai penyangga pranata sosial, sebagai pembawa ajaran moral, baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam kehidupan masyarakat, dan sebagai pencerdas bangsa.
Kaba sama dengan `kabar' (Junus, 1984a: 17; Navis, 1986: 243)
sehingga juga berarti `berita'. Sebagai istilah ia menunjuk suatu jenis sastra tradisional lisan Minangkabau yang diceritakan oleh seorang tukang kaba dengan diiringi saluang, rebab, dan slat musik lainnya atau melalui pertunjukan randai. Kaba berbentuk prosa liris. Bentuk ini tetap dipertahankan bila diterbitkan dalam bentuk buku. Kesatuannya bukan pada kalimat dan bukan pada bans. Kesatuannya ialah pengucapan dengan panjang tertentu yang terdiri dari dua bagian yang berimbang.
Sesuai dengan hakikatnya sebagai fiksi, cerita kaba mengungkapkan pelbagai masalah kehidupan manusia dengan keunikan penyampaian yang spesifik. Penyampaian yang terjadi padu akan melukiskan kehidupan masyarakat Minangkabau yang kompleks dan dapat menyampaikan pesan sebaik-baiknya kepada masyarakat pembaca (Udin. 1982: 99).
Kaba sebagai bentuk karya sastra dari satu sisi dapat berfungsi sebagai "cermin dari masyarakat", Ini sesuai dengan konsep Alan Singewood yang menyatakan sastra adalah cermin masyarakat, atau cermin suatu zaman atau sastra adalah refleksi atau refraksi sosial (dalam Damono, 1979: 4; Junus, 1934: 57).
Beberapa pemikiran semacam itulah yang menjadi faktor pendorong untuk meneliti profil wanita dalam kaba Minangkabau dan hubungannya dengan keadaan yang ada dalam masyarakat Minangkabau sesuai dengan sistem dan adat yang dianut. Dengan penelitian ini, diharapkan beberapa hal yang menyangkut pemikiran, sikap, pandangan dan perilaku wanita Minangkabau dapat dikenali dan diidentifikasikan. Pada tahap selanjutnya diharapkan akan dan diidentifikasikan. Pada tahap selanjutnya diharapkan akan dapat memberikan masukan-masukan positif dalam pengembangan kebudayaan nasional pada umumnya, pengembangan kesusasteraan daerah khususnya.
Penelitian ini mempergunakan kaba yang representatif yaitu; (1) kaba Cindua Mato (CM) yang diangkat dari basil penelitian filologis M. Yusuf dengan judul "Persoalan Transliterasi dan Edisi Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung (Kaba Cindua Mato) "; (2) kaba Anggun nan Tungga (ANT) karya Ambas Mahkota; (3) kaba Malin Deman (MD) dari kajian filologis Nurizzati dengan judul "Kaba Malin Deman sebuah Kajian Filologis".

Pendekatan Teoritis
Penelitian profil wanita dalam kaba Minangkabau ini dilakukan dengan memanfaatkan teori yang memadai. Teori yang memadai tersebut adalah teori yang dapat mengungkapkan dan menjawab permasalahan
yang dirumuskan di atas. Teori Yang dapat mengungkapkan tentang permasalahan di atas di atas adalah sosiologi sastra, karena sejak semula penelitian ini sudah membicarakan tentang sosiologi sastra.
Dengan sosiologi sastra ada dua hal yang tercakup, yakni "sosiologi" dan "sastra". Weber (dalam Susanto, 1983: 2) mengatakan bahwa sosiologi adalah cabang ilmu yang mengerti, dan menjelaskan tindak tanduk sosial manusia yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat. Tindakan sosial adalah tindakan yang oleh individu dimaksudkan untuk mempunyai pengaruh terhadap tindakan, dan sikap orang lain, dan bahwa faktor lain itu diperhitungkan dalam tindakan semulanya. Ada pun objek materi sosiologi ialah kehidupan sosial manusia, dan gejala suatu proses hubungan yang mempengaruhi kesatuan hidup (Susanto, 1983: 4).
Sejalan dengan itu Damono (1979: 7) menyatakan bahwa sosiologi adalah telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dan masyarakat; telaah tentang lembaga dan proses sosial. Sementara itu, sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat; usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan juga usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Oleh sebab itu, sesungguhnya sosiologi dan sastra berbagi hal yang sama. Perbedaannya adalah bahwa sosiologi melakukan analisis ilmiah dan objektif, sedangkan novel (sastra) menyusup menembus permukaan kehidupan sosial dan memperlihatkan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya (Damono, 19789: 8).
Junus (19846: 3-5) membahas teori tentang karya sastra sebagai dokumen sosio-budaya. Dalam hal ini, sastra dilihat sebagai dokumen sosio-budaya yang mencatat kenyataan sosio-budaya atau masyarakat pada masa tertentu. Pendekatan ini hanya tertarik pada unsur-unsur sosio­budaya yang terdapat dalam karya itu sendiri yang dilihat sebagai unsur­-unsur lepas dari kesatuan karya. Kajian tersebut hanya mendasarkan kepada cerita tanpa mempersoalkan struktur karya. Oleh karena itu, terdapat tiga kemungkinan yang dapat ditempuh dalam pendekatan ini, yakni:
  1. Suatu unsur dalam karya sastra diambil secara terlepas dari hubungannya dengan unsur lain dan kemudian dihubungkan langsung dengan suatu unsur sosio-budaya;
  2. Pendekatan ini boleh mengambil "citra" tentang sesuatu – wanita, laki-laki, orang asing, tradisi, dunia modern dan lain – dalam suatu karya atau beberapa karya yang mungkin saja dilihat dalam perspektif perkembangan. Dengan demikian, maka akan dapat terlihat perkembangan citra tentang sesuatu tersebut.
  3. Pendekatan ini boleh mengambil motif atau tema yang keduanya berbeda secara gradual.
Dalam penelitian ini akan dilihat profil wanita dalam kaba dan kaitannya dengan konsepsi budaya dan 'adat Minangkabau yang melatari terciptanya kaba. Oleh sebab itu, permasalahanlah yang menjadi dasar penelitian bukan struktur, seperti yang diungkapkan Umar Junus di atas.
Pengungkapkan profil menggunakan teori psikologi, karena profil yang dimaksud di sini adalah kepribadian atau personality. Psikologi menurut Walgito (1993: 9) merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tentang tingkah laku atau aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan.
Kepribadian (personality) menurut Sartain (1958: 134-134) istilah yang menunjukkan n suatu organisasi/susunan daripada sifat-sifat dan aspek-aspek tingkah laku lainnya yang saling berhubungan di dalam suatu individu.
Dengan demikian, usaha untuk mendeskripsikan profil wanita dalam kaba ini dilakukan dengan melihat sikap dan tingkah laku wanita ketika berhadapan dengan konflik; bagaimana ia menghadapi permasalahan, menyikapi, menyelesaikan, dan menindaklanjuti yang pada akhirnya bermuara pada konsepsi tentang kehidupan.
 Cara Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan untuk mendes­kripsikan profil wanita dalam kaba Minangkabau dan hubungannya dengan konsepsi budaya dan adat istiadat Minangkabau. Berdasarkan landasan teori di atas, maka dijabarkanlah langkah-langkah operasional penelitian ini menjadi beberapa tahap kegiatan.
  1. Merumuskan profil wanita dalam kaba Minangkabau sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat terhadap pandangan, keindahan, cinta kasih, tanggung jawab, harapan, dan keadilan.
  2. Merumuskan peranan wanita dalam kaba Minangkabau terhadap keluarga dan masyarakat.
  3. Merumuskan hubungan profil wanita dalam kaba Minangkabau dengan konsepsi budaya dan adat istiadat yang dianut pada wanita itu.
 Hasil dan Pembahasan
Peran wanita dalam keluarga yang ditemui dalam penelitian ini adalah sebagai istri dan teman hidup dari sang suami, partner dalam bidang seksual, pengasuh dan pengatur rumah tangga bagi anak-anak dan asumsinya, menjadi anggota masyarakat lainnya. Sebagai istri wanita dalam kaba ada yang setia sampai akhir hidupnya mendampingi suami seperti Puti Linduang Bulan dengan Rajo Muda, Puti Bungsu dengan Dang Tuanku (CM); Puti Mayang Sani dengan Rajo Tuah (MD). Ada wanita yang menjadi istri (didampingi suami) hanya sampai mempunyai anak Baja kemudian berpisah seperti, Puti Lenggogeni dengan Cindua Mato setelah lahir anaknya Sutan Amirullah dan Puti Lembak Tuah (CM); Andami Sutan dengan Anggun nan Tungga menjelang lahir anaknya Mandugo Ombak. Ameh Manah dengan Nankodo Rajo setelah lahir anaknya Puti Gondoriah, Ganto Pomai dengan Tuanku Haji Mudo menjelang lahir anaknya Anggun nan Tungga, Galinggang Layua dengan Tuanku Haji Mudo setelah lahir anaknya Katik Alamsudin (ANT); Puti Bungsu dengan Malin Daman setelah lahir anaknya Malin Duano
Kehidupan wanita sebagai istri pada umumnya tampak sementara saja. Hal ini dapat dicermati berdasar basil penelitian disebabkan; (a) wanita (istri) tidak selalu menggantungkan kehidupan sosialnya kepada lelaki (suami); (b) keterikatan suami dengan keluarga ibu; (c) menghormati profesi suami; (d) berasal dari dunia yang berbeda. Walaupun penyebab perpisahan itu dapat dipilah-pilah, tetapi semua sating terkait dan secara keseluruhan mengkristal sehingga terjadilah perpisahan secara bail; dan sukarela. Dengan demikian, terlihatlah bahwa wanita dalam kaba perkasa secara psikis tetapi tidak memiliki keperkasaan pisik. Wanita menguasai pikiran dan perasaan suami dan anaknya. Wanita kukuh dan tegar dengan pendiriannya, prinsip, dan tujuan hidupnya.
Wanita dalam lingkungan keluarga terpusat pada perannya sebagai ibu, yakni sebagai orang yang mendominasi kepentingan anak-anaknya. Wanita sebagai motivator, pendidik, dan sekaligus hakim bagi anak­-anaknya. Wanita sebagai seorang ibu dalam kaba ini mengutamakan kepentingan anak-anaknya, melihat tanggung jawab yang penuh dalam hal membesarkan dan mendidik anak. Wanita membesarkan dan mendidik anak dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, welas kasih, dan mandiri. Wanita sebagai ibu mempunyai rasa sosial, toleran, tegar, dan kreatif dalam lingkungan keluarganya. Dalam hal segala kebutuhan anak, wanita selalu berusaha untuk memenuhinya dengan mandiri dan memberikan kebutuhan tersebut sesuai dengan kodrat anaknya. Untuk anak laki-laki diberikan pendidikan yang ada hubungan dengan kepentingan di luar keluarga atau laki-laki diberikan pendidikan yang berbeda dengan anak wanita. Harapan wanita bahwa anak laki-laki merupakan perpanjangan tangan wanita di luar keluarga. Anak wanita dianggap sebagai pewaris dalam keluarga, sehingga diberikan pendidikan yang menyangkut kepentingan keluarga. Dengan kata lain, bahwa anak laki-laki akan mempunyai peran sebagai figur publik dan anak wanita sebagai figur domestik.
Wanita sebagai anak dididik untuk patuh kepada orang tua terutama ibu, karena ibu lebih dekat dengan anak dari pada ayah. Ini terlihat dalam kehidupan yang ada dalam kaba bahwa ternyata anak dibesarkan oleh ibu tanpa ayah. Cindua Mato dan Dang Tuanku dibesarkan oleh Bundo Kandung tanpa ayah. Puti Ranik Jintan dan kakaknya Rajo Imbang Jayo hidup jauh dari ayah (CM). Anggun nan Tungga dan Katik Lamsudin yang ditinggal ayah sebagai seorang pertapa. Gondoriah yang ditinggal ayah pergi merantau. Sebagai seorang anak wanita mendapat pendidikan terarah mengenai kerumahtanggaan, karena wanita kelak diharapkan nanti juga sebagai ibu dalam keluarga dan sekaligus pewaris keluarga. Dalam hubungan dengan ayah, anak wanita akan harmonis bila kepentingannya tidak terganggu. Bila kepentingannya terganggu maka anak wanita akan menjauhkan diri dari ayahnya seperti yang dilakukan Puti Bungsu dalam kaba Cindua Mato.
Wanita sebagai kakak dianggap sebagai pengganti ibu untuk mengkomunikasikan kegiatan yang hendak dilakukannya. Ini terlihat pada Bundo Kandung dan Puti Bungsu ketika mencari jalan keluar yang terbaik dalam suatu persoalan. Sebagai adik wanita juga menjadi panutan seperti wanita sebagai kakak. Ini juga terlihat pada Puti ranik Jintan yang sering membantu kakaknya Rajo Imbang Jayo dalam berbagai persoalan. Begitu juga dengan Suto Sori terhadap kakaknya Katik Intan, Mangukudum Sad. dan Nankodo Rajo untuk diselamatkan dari kungkungan bajak laut. Jadi jelaslah bahwa peran wanita sebagai kakak atau adik bagi saudara laki-lakinya merupakan peran sebagai pengganti ibu. Terhadap saudara wanita peran kakak wanita juga sebagai ibu, sedangkan peran adik wanita terhadap saudara wanita begitu juga, namun dalam mengambil keputusan tetap berada di tangan kakak sebagai wanita.
Peran wanita sebagai nenek akan ditentukan leh keharmonisan hubungan ibu dengan anak. Bila seorang anak kurang harmonis dengan ibunya, maka kekurangan harmonis tadi akan berlanjut dengan cucunya, begitu juga sebaiknya.
Wanita sebagai pimpinan masyarakat mementingkan perasaan dan pikiran, sehingga wanita lebih sering memberikan keputusan sesuatu hal dalam kepemimpinannya terhadap laki-laki. Ini terlihat pada Bundo Kandung yang menjadi raja dalam kaba Cindua Mato. Wanita dalam kaba selalu menyalurkan maksud dan tujuannya terhadap laki-laki. Hal semacam ini terlihat pada Ganto Pomai dan Bundo Kandung ketika mewujudkan keinginan menyelamatkan saudara-saudaranya dan memutuskan untuk berperang dengan Rajo Imbang Jayo dengan Tiang Bungkuk.
Dalam kehidupan masyarakat lainnya, wanita lebih banyak berperan dalam keluarga dengan kemampuannya dan dalam masyarakat pekerjaannya juga adalah pekerjaan yang didapatnya sebagai anggota keluarga. Wanita lebih banyak mengerjakan pekerjaan yang bersifat kewanitaan ataudomestik. Peran wanita dalam masyarakat yang ditemui dalamkaba ini diantaranya sebagai pembantu rumah tangga seperti yang dilakukan Kambang Bandahari. Peran lainnya sebagai dukun beranak seperti yang dilakukan Ameh Manah. Pengelola kebun bunga dan ibu angkat seperti yang dilakukan oleh Mande Rubiah Randa Kaya dan Mande Rubiah Pakan Bunga. Pekerjaan wanita lainnya adalah sebagai penjemur hasil pertanian dan pengembala ternak.
Profil wanita yangdimaksud dalam penelitian ini adalah melihat tingkahlaku wanita ketika berhadapan dengan konflik; bagaimana ia menghadapi permasalahan, menyikapi, menyelesaikannya, dan menindaklanjutinya yang pada akhirnya bermuara pada konsepsi tentang kehidupan. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka perlu diungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan tingkah laku yaitu pandangan hidup, keindahan, cinta kasih, tanggung jawab, harapan, dan keadilan. Pandangan hidup wanita dalam kaba ini adalah pandangan hidup yang menerima apa adanya. Pandangan hidup wanita yang dianggap benar adalah konservatif yaitu mengokohkan tradisi dan kebiasaan yang ada sebelumnya. Ini jelas terlihat pada setiap wanita dalam kaba seperti Puti Bungsu yang semula dijodohkan dengan Dang Tuanku tidak mau lagi dijodohkan dengan Rajo Imbang Jayo. Hal Ini karena sebelumnya sudah disepakati secara bersama, sehingga Puti Bungsu tidak mau mengkhianati kesepakatan bersama itu. Begitu juga dengan Gondoriah yang mempunyai pendirian kokoh terhadap janjinya dengan Anggun nan Tungga. Kekukuhan dirinya juga terlihat pada Bundo kandung yang tidak mau kawin lagi. Begitu juga dengan Ganto Pomai. Di sisi lain terlihat juga wanita yang sangat patuh kepada orang tua sehingga pilihan jodoh pun ditentukan meskipun jodohnya tersebut sudah mempunyai istri. Ini terlihat pada Puti Reno Bulan yang mau dikawinkan dengan Cindua Mato.
Bagi wanita dalam kaba, keindahan dapat diwujudkan secara lahir batin. Secara lahir dapat dilihat dalam bentuk penampilan, pakaian, dan pandangan, sedangkan secara batin diungkapkan melalui ucapan dengan susunan atau rangkaian kata-kata yang indah dan disusun dalam bentuk pantun.
Wanita dalam kaba adalah wanita yang menempatkan cinta kasih sebagai sesuatu yang agung, luhur dan sakral. Wanita dalam kaba adalah wanita yang setia pada pilihan hatinya. Di dalam menyikapi cinta kasihnya ini wanita sangat teguh. Wanita tidak mau melanggar atau mengkhianati suatu persekutuan karena dianggap suatu kesalahan besar. Puti Bungsu bersedia lari dibawa Cindua Mato, meskipun dia akan dinikahkan dengan Rajo Imbang Jayo, untuk mewujudkan cinta kasihnya dengan Dang Tuanku. Gondoriah bersedia Ian ke gunung ledang demi kesucian cinta kasihnya terhadap Anggun nan Tungga. Kesucian cinta kasih yang lain terlihat pada Lenggogini (CM), Puti Bungsu (MD) yang tidak mau menggantikan kedudukan suaminya dengan lelaki lain. Bagi Puti Reno Bulan (CM) dan Santan Batapi (MD) cinta kasihnya sebagai istri kedua merupakan cinta kasih yang punya landasan kesepakatan tersendiri. Bentuk kesepakatan tersendiri yang lainnya juga dilakukan oleh Santan Batapi (ANT). Wujud cinta kasih antara ibu dan anak adalah pertanggungjawaban membesarkan dan mendidik anak sampai dewasa dan berumah tangga. Sebaliknya anak memberikan cinta kasih kepada ibu dengan mengabdi dan patch terhadap apa yang telah diberikan ibunya. Cinta kasih sebagai anggota keluarga bagi wanita dalam kaba adalah menjaga jangan hancur, meskipun membutuhkan pengorbanan yang sangat dalam.
Wanita dalam kaba merupakan wanita yang penuh tanggung jawab dalam menjalani kehidupannya terhadap berbagai peran. Beban yang dipikul wanita sesuai dengan peran dan kodratnya dihadapi dengan penuh rasa tanggung jawab. Wanita dalam kaba adalah wanita yang bertanggung jawab atas peran dan tugas yang diembannya. Bundo Kandung (CM), Suto Sori (ANT) sesuai dengan perannya sebagai ibu memperlihatkan tanggung jawabnya membesarkan dan mendidik anak. Tanggung jawab sebagai istri adalah mengatur dan membina rumah tangga yang baik serta membesarkan anak. Dalam kaba semua istri telah melakukan tanggung jawabnya sesuai dengan perannya, meskipun dia berpisah dengan suaminya, namun anak tetap dibawa. Tanggung jawab sebagai anak adalah mematuhi segala aturan dan norma yang telah ditentukan orang tua. Patuh akan segala perintah orang tua merupakan tanggung jawab yang diberikan kepada setiap wanita. Demi tanggung jawab yang diberikan kepada setiap wanita dalam kaba sebagai anak mereka rela berkorban.
Pengorbanan itu dapat saja merugikan dirinya. Seperti Puti Reno Bulan yang rela dimadu oleh Cindua Mato. Tanggung jawab sebagai kakak adalah melindungi dan mengingatkan adik dari perbuatan yang tidak baik menurut norma yang ada. Akan tetapi tidak jarang pula adik kurang mematuhi apa yang diberikan kakaknya seperti yang dilakukan Puti Bungsu (MD).
Tanggung jawab sebagai adik terhadap kakak adalah menjaga kemaslahatan kakak. Mengambil alih tanggung jawab kakak bila kakak tidak ada seperti yang dilakukat si kambang terhadap Gondoriah dan Puti Ranik Jintan terhadap Rajo Imbang Jayo.
Wanita mewujudkan harapannya terhadap anak. Mulai dari kecil para wanita sudah berharap agar anaknya nanti menjadi manusia yang berguna bagi keluarga dan masyarakat. Ganto Pomai berharap anaknya menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat. Begitu juga dengan Bundo kandung terhadap Dang Tuanku dan Cindua Mato agar menjadi raja yang adil dan bijaksana bila berkuasa. Untuk para wanita selalu memberikan pengajaran yang terbaik kepada setiap anaknya demi mewujudkan harapan yang diinginkannya.
Wanita dalam kaba secara tidak langsung mendapat ketidakadilan dari lelaki. Ini terlihat pada Cindua Mato, Anggun nan Tungga, dan Malin Deman yang melakukan poligami. Wanita tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh lelaki. Malah mereka mau tidak bersuami lagi seperti yang dilakukan Bundo Kandung (CM), Lenggogini (CM), Santan Batapi (ANT), dan Puti Bungsu (MD). Sebagai ibu, wanita menjalankan sikap keadilan terhadap anak dan anggota keluarga lainnya sesuai dengan hak dan kewajiban dalam perannya masing-masing. Misalnya dalam memberikan pendidikan, seorang ibu berlaku adil terhadap semua anak atau dianggap anak. Ini terlihat pada Bundo Kandung yang mengajari Dang Tuanku, Cindua Mato dan pegawai istana lainnya bukan anaknya, meskipun Cindua Mato dan pegawai istana lainnya bukan anaknya.
Ada lima hal yang dikemukakan adat istiadat Minangkabau tentang wanita yaitu (1) Limpapeh rumah nan gadang berarti wanita sebagai kekuatan dalam suatu keluarga, karena limpapeh artinya tiang tengah dalam sebuah bangunan; (2) umbun puruak pegangan kunci dimaksud bahwa wanita adalah pemegang basil ekonomi; (3) pusek jalo kumpulan tali yaitu pengatur rumah tangga dan merupakan sumber yang sangat menentukan baik dan jeleknya anggota keluarga; (4) sumarak dalam nagari, hiasan dalam kampuang maksudnya wanita merupakan kesemarakan negeri dan perhiasan kampung; (5) nan gadang basah batuah berarti lambang kebanggaan dan kemuliaan.
Bila dilihat dari konsepsi adat Minangkabau di atas maka wanita dalam kaba jelas mencerminkan kehidupan, apa yang telah ditetapkan adat Minangkabau tersebut. Sebagai kekuaran dalam keluarga, wanita telah berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam keluarganya seperti mendidik anak, sebagai pendamping suami, mengatur rumah tangga, sebagai saudara (kakak dan adik) dan anggota keluarga lainnya. Oleh karena wanita memegang hasil ekonomi, maka wanita Minangkabau secara materi tidak berkekurangan, sehingga bila ditinggalkan oleh suaminya mereka dapat hidup dengan baik, seperti'Btmdo Kandung, Lenggogini, Puti Reno Bulan, Puti Ranik Jintan (CM), Ganto Pomai, Ameh manah, Galinggang Layua, Andami Sutan (ANT), Puti Bungsu dan Sa,ntan Batapi (MD). Bila mereka tidak mempunyai materi, mereka dapat saja melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kewanitaannya seperti menjadi pembantu rumah tangga, petani, petemak, dukun beranak, penjual bunga, dan lain sebagainya, seperti Kambang Bandahari (CM), Ameh Manah (ANT), Mandeh Rubiah Randa Kaya dan Mande Rubiah Pakan Bunga (MD). Sebagai pengatur rumah tangga dan merupakan sumber yang sangat menentukan baik dan jeleknya anggota telah dilakukan oleh wanita seperti Bundo Kandung (CM), Ameh Manah dan Galinggang Layua (ANT). Sebagai semarak negeri dan hiasan kampung dapat dilihat pada Lenggogini, Puti Bungsu dan Puti Reno Bulan (CM), Gondoriah dan Santan Batapi (ANT). Sebagai lambang kebanggaan dan kemuliaan dapat dilihat pada Bundo Kandung (CM), Suto Sori dan Ameh Manah (ANT).
Kepribadian seseorang dan masyarakat menurut adat didasari oleh budi dan malu. Untuk itu wanita dalam kaba selalu menjaga budi dan malu tersebut secara baik. Hal ini dapat dilihat pada kemarahan Bundo kandung yang malu karena Cindua Mato telah melarikan Puti Bungsu; kemarahan Bundo kandung terhadap adiknya Rajo Mudo karena malu dengan masyarakat akan hubungan Dang Tuanku dengan Puti Bungsu yang diputus oleh Rajo Mudo; Puti Ranik Jintan menasehatinya kakaknya karena malu kepada masyarakat akan penghinaan terhadap kakaknya Rajo Imbang Jayo yangtidak jadi kawin dengan Puti Bungsu; Suto Sod marah-marah kepada Anggun nan Tungga dan Bujang Salamat karena membawa malu pulang; Suto Sori mengizinkan Anggun nan Tungga mencari para pamannya karena malu atas fitnahan yang diedarkan Nan Kodo Rajo; Gondoriah tan ke gunung ledang karena malu menerima kembali Anggun nan Tungga yang sudah kawin; Puti Bungsu kembali ke langit karena dipermalukan oleh mertua dan saudara-saudaranya; Puti Tangah memarahi Puti Bungsu yang tidak mau melihat Medan Khiali sakit karena malu dengan Mande Rubiah Pakan Bunga yang akan menjadi calon mertua adiknya.
 Kesimpulan
Berdasarkan pendeskripsian penelitian profil wanita dalam kaba dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
  1. Wanita dalam kaba berperan hanya dalam keluarga yakni sebagai istri, ibu, anak, saudara (kakak dan adik), dan nenek. Di luar lingkungan keluarga wanita kurang berperan seperti laki-laki. Kecuali Bundo Kandung yang menjadi raja Pagaruyung.
  2. Wanita dalam keluarga terpusat perannya sebagai ibu, yakni seorang yang mendominasi kepentingan anak-anaknya. Sebagai ibu wanita bertindak sebagai motivator, pendidik, dan sekaligus hakim bagi anak-anaknya. Dalam hat prioritas anak, wanita akan menempatkan anak laki-laki sebagai perpanjangan tangannya terhadap lingkungan luar keluarga, sedangkan anak wanita sebagai perpanjangan tangan dan pewaris kepentingan dalam keluarga.
  3. Secara formal wanita tidak banyak muncul dalam masyarakat yang lebih luas, namun pengaruhnya tetap besar karena kepentingan dan kemauannya terdelegasikan melalui anak laki-lakinya.
  4. Profit wanita dalam kaba adalah wanita-wanita yang berpan­dangan hidup ideal, penuh tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungannya, penuh nilai cinta kasih yang luhur tanpa pamrih serta luas dalam menetapkan harapan. Kebahagiaan mereka adalah kebaha­giaan batin. Menyukai keindahan dan penuh keadilan, meskipun mereka kurang diperlakukan adil oleh laki-laki.
  5. Profil wanita dalam kaba berhubungan erat dengan kepribadian individual anggota masyarakat menurut sistem sosial masyarakat Minangkabau. Bahkan wanita dalam kaba merupakan pengukuhan kepribadian anggota masyarakat Minangkabau.

Catatan Akhir:
Artikel ini disusun berdasarkan hasil penelitian untuk penulisan tesis S2 (1998) Program Studi Ilmu Sastra, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.


Daftar Pustaka:

Armini, 1996. "Citra Wanita Pekerja dalam Empat Novel". Tesis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Asri, Jasnur, 1996. Orientasi Nilai Budaya Tokoh Wanita dalam Novel Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Baried, Baroroh, 1984. "Citra Wanita dalam Kebudayaan Indonesia". Makalah Semi­nar Nasional Wanita Indonesia: Fakta dan Citra, Jakarta 23 - 25 Agustus.
Chamamah-Soeratno, Siti, 1994. Sastra dalam Wawasan Pragmatic Tinjauan alas Asas Relevansi di dalam Pembangunan Bangsa. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, tanggal 24 Januari.
Damono, Sapardi Djoko, 1979. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Jassin, H.B., 1984. Sastra Indonesia sebagai Wargo Sastra Dunia. Jakarta. Gramedia.
Junus, Umar, 1984a. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau: Suatu Problem Sosiologi Sastra. Jakarta: Gramedia.
_______ , 1984 Sastra Melayu Madan : Fakta dan Interpretasi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.
Mahkota, Ambas, 1982. Anggun nan Tungga. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
Navis, A. A., 1986. Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Graffitipers.
Nurizzati, 1994. "Kaba Malin Deman Sebuah Kajian Filologis". Tesis S-2 Universitas Padjadjaran Bandung.
Penghulu, Idrus Hakimy Dt. Rajo, 1994. Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Ada: Minangkabau. Bandung. Ramaja Rosdakarya.
Ridjal, Fauzi, 1993. Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Sartain, A. Q., 1958. Psychology: Understanding Human Behaviour. McGraw-Hill Book Company, Inc.
Susanto, Astrid, 1983. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Jakarta: Bina Cipta.
Udin, Syamsuddin, 1982. "Kaba Minangkabau Karya Syamsuddin Sutan Rajo Endah: Tinjauan dari Sudut Sosial Budaya". Padang: Penelitian untuk Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Jakarta.
Walgito, Bimo, 1993. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

Perbandingan Tokoh Wanita Dalam Kaba dengan Novel Indonesia Periode Balai Pustaka

Perbandingan Tokoh Wanita Dalam Kaba dengan Novel Indonesia Periode Balai Pustaka
 Drs. Hermawan, M. Hum·.
 Pendahuluan
            Topik ini didasarkan oleh pemikiran bahwa antara kaba (sastra fiksi Minangkabau) mempunyai pertalian yang erat dengan novel Indonesia modern pada zaman awal penulisannya. Pertalian itu dihubungkan oleh unsur pengarang sebagai pencipta, dan realitas objektif sebagai sumber penciptaan. Puncak novel Indonesia modern sebagaimana diketahui pada umumnya ditulis oleh pengarang dari etnis Minangkabau. Sehingga novel seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Tenggelamnya Kapal van der Wijk banyak sedikitnya dipengaruhi oleh sosio budaya Minangkabau.
            Asumsi dasar sebelum ini secara umum selalu mengaitkan sastra Indonesia dengan sastra Melayu sebagai akibat logis dari pencuatan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Padahal kreativitas muncul dari unsur manusianya bukan bahasa yang digunakannya sebagai alat, sehingga pengaitan sastra Indonesia dengan tradisi sastra Minangkabau menjadi penting ditinjau dari sudut unsur manusianya ‘pengarang’. Novel sebagai karya ekspresif berkaitan dengan tradisi sosio budaya yang melatyarbelakanginya. Oleh sebab itu, kemungkinan lompatan kaba ke novel lebih logis dibandingkan kemungkinan lompatan dari hikayat ke novel.
            Perbandingan antara kaba dengan novel sekaligus dapat juga dijadikan gambaran perubahan sosial di tengah masyarakaty Minangkabau, perubahan pandangan dan pemikiran terhadap sosio budaya Minangkabau. Perbandingan penokohan antara kaba dengan novel diperkirakan akan memperlihatkan perubahan motivasi, pandangan hidup, prilaku, kebijakan, dan pemikiran yang berkembang dalam masyarakat.
            Beda penokohan kaba dengan novel diperkirakan sebagaimana perbendaan antara pandangan orang Minang yang masih Minang dengan orang Minang yang telah mengindonesia. Penokohan kaba akan memperlihatkan karakteristik ketokohan anggota masyarakat Minangkabau yang masih berintekraksi sesamanya. Sedangkan penokohan novel akan memperlihatkan karakteristik ketokohan anggota masyarakat Minangkabau yang telah berintekraksi secara bebas dengan kelompok etnis lain.
Kerangka Berfikir
            Istilah penokohan dibedakan dengan perwatakan. Penokohan berhubungan dengan kondisi dan karakteristik tokoh dalam kontek sosialnya terhadap tokoh dan unsur lain, sedangkan perwatakan merupakan keselarasan unsur-unsur kedirian tokoh tersebut tanpa dihubungkan dengan keserasiannya dengan tokoh dan unsur lainnya.
            Perawatan suatu tokoh hanya dilihat dalam keserasian kondisi pisik dengan  kondisi psikis tokoh terebut. Kondisi pisik tokoh meliputi penamaan, gelar, sapaan, keadaan tubuh, dan keadaan pakaian. Kondisi psikis meliputi segala gejolak kejiwaan tokoh, seperti emosi, pikiran, pandangan, angan-angan dan reaksi. Kondisi pisik dan kondisi psikis harus saling tunjang menunjang dalam bentuk suatu perwatakan tokoh.
            Kondisi pisik tokoh pada umumnya relatif tetap, dan hanya terubah apabila terjadi perubahan waktu atau perkembangan usia tokoh. Sedangkan kodisi psikis akan berubah apabila terjadi pergantian waktu, tempat, tujuan penceritaan, dan terutama oleh perubahan peran tokoh. Maka dalam diri seorang tokoh akan muncul keragaman perwatakan akibat perubahan perannya. Perwatakan akan menjadi landasan dari prilaku dan ucapan tokoh yang disesuaikan dengan perannya.  Permasalahan fiksi pada hakekatnya muncul akibat pertemuan antara peran doa orang tokoh – dapat pula dua kelompk tokoh—yang bermula dari perwatakannya yang berbeda. 
            Penokohan merupakan keserasian antara prilaku dan ucapan dengan peran dan permasalahan fiksi. Setiap prilaku, ucapan, dan peran tokoh akan selalu terkait secara berpasangan atau berlawanan dengan perilaku, ucapan dan peran tokoh lainnya.  Maka penokohan berharti kondisi tokoh dalam interaksinya dengan tokoh lain.
            Sehubungan dengan hal itu  maka pembahasan tentang penokohan dan perawatan sebenarnya harus dipilih berdasarkan peran tokoh tersebut. Setiap tokoh cerita akan selalu   
berubah-ubah peran dan akan mustahil hanya memerankan satu peran saja Dengan kata lain tolak ukur tokoh utama atau tidaknya seorang tokoh ditinjau dari sudut keragaman peranya.  Semankin banyak yang  diperankan  seorang tokoh, semankin penting tokoh tersebut dan ialah tokoh utama cerita..
            Pembahasan tentang tokoh wanita tidak dapat dilakukan tanpa penyorotan tokoh laki-laki. Penokohan muncul atas dasar peran yang difungsikan pengarang kepada tokoh tersebut. Pembicaraan peran hanya dapat dilakukan jika dihubungkan dengan pasangan ataun lawan peran tersebut. Misalnya pembicaraan peran ibu tidak akan menonjol jika tidak dikaitkan dengan peran anak sebagai lawannya atau dengan peran ayah sebagai pasangannya. Oleh sebab itu, dalam pembicaraan tokoh wanita tetap terkait dengan tokoh laki-laki.

Ragam Peran Kaba
            Dari hasil penelitian tiga buah kaba, yakni; Cindua Mato (CM), Anggun nan Tongga (ANT), dan Malin Deman (MD) ditemukanlah bebarapa jenis peran tokoh yang dibedakan atas:
(a)    peran dalam keluarga inti yang meliputi ibu, anak, kakak, adik, dan kemenakan (keponakan);
(b)   peran dalam keluarga luasan yang meliputi ayah, mertua, menantu, suami, dan istri;
(c)    peran akibat hubungan keluarga inti dengan keluarga luasan yang meliputi ipar dan besan; dan
(d)   peran dalam interaksi sosial yang meliputi majikan, pembantu, pimpinan, bawahan, penghulu, ulama, guru, murid, kekasih, sahabat, wali murid, tuan rumah, dan tamu.
Mengingat waktu dan kesempatan. Dalam hal ini peran-peran yang melibatkan tokoh wanita dalam ketiga kaba hanyalah sebagai ibu, anak, kakak, adik, dan istri. Dari peran-peran inilah akan disoroti perbandingan penokohan antara kaba dengan novel. Novel yang dijadikan sampel pembandingnya adalah Siti Nurbaya (SN), Salah Asuhan (SA), dan Tenggelamnya Kapal van der Wijk (TKW).
Perbandingan Penokohan Kaba dengan Novel
Penokohan Wanita sebagai Ibu
            Dalam sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau peran ibu menjadi peran sentral dari peran-peran lainnya. Ketokohan ibu dalam masyarakat menjadi patokan bagi keluarganya terutama anak-anaknya. Ibu simbol dari kekokohan suatu keluarga, sekaligus ibu pencerminan dari raja dalam keluarga karena peran ibu berpengaruh pula terhadap peran wanita lain dalam keluarga seperti saudara, istri, mertua, dan menantu.
            Perwatakan tokoh wanita yang berperan sebagai ibu dalam kaba digambar seorang wanita yang mempunyai wawasan untuk kebaikan keluarga dan kampungnya, mempunyai cita-cita agar anggota keluarganya melebihi anggota keluarga lainnya dan mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kemajuan anggota keluarga dan masyarakat kampungnya.
            Setelah seorang anak lahir tanggung jawab terhadap anak yang diberikan orang tua ternyata dari ibu bukan ayah. Hal ini meliputi usaha membesar anak, menyelenggarakan pendidikan terhadap anak atau setidak-tidaknya mengusahakan pendidikannya. Hal itu terutama pada tokoh wanita yang hidup di wilayah kampung halamannya. Sejak kecil anak hanya mengenal ibunya, sedangkan ayah boleh dikatakan tidak hidup bersama anaknya. Demikian halnya dengan tokoh wanita sebagai ibu seperti Suto Sori, Amai Manah, dan Galinggang Layua (ANT) yang membesar anak-anak mereka tanpa didampingi suami mereka. Sedangkan ayah telah meninggalkan istri dan anaknya di saat anak belum lahir atau baru saja lahir. Sementara itu tokoh Bundo Kambang Bandahari, Puti Bungsu, Lenggogeni, Puti Linduang Bulan (CM) memang ada didampingi suaminya Cindua Mato, Dang Tuanku, dan Rajo Mudo, Bujang Salamaik, tetapi sang ayah ini tidak pernah memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak-anaknya. Kenyataan seperti ini pulalah yang muncul dalam novel Salah Asuhan dimana pendidikan dan kehidupan tokoh Hanafi dan Safei diupayakan dan ditentukan oleh ibunya. Begitu pula dengan kehidupan tokoh Zainuddin (TKW) yang dibesar dan dididik oleh keluarga ibunya.
            Dalam kaba memang ada pula ditemukan hanya hidup serumah antara ayah dan anak perempuannya, seperti Katik Intan, Mangkudum Sati (ANT), Tiang Bungkuk (CM), latar kehidupan ini benar-benar berada di luar daerah Minangkabau atau hidup di perantauan. Sungguhpun ayah dan anak hidup serumah dengan anak perempuannya tanpa diketahui bagaimana ibunya, tetapi ayah tidak pernah memperlihatkan perilaku yang mengusahakan pendidikan dan kemaslahatan anaknya seperti Santan Batapih, Andami Sutan (ANT). Hal ini sangat berbeda dengan ibu pada tokoh Suto Sori, Ameh Manah, Galinggang Layua (ANT) Bundo Kanduang (CM),  yang menentukan dan peduli dengan pendidikan dan kehidupan anak-ananya di masa datang. Sungguhpun anaknya itu laki-laki, ibu tetap peduli dan memegang kendali dan inisiatif terhadap sikap dan perilaku anaknya.
            Dalam novel (SN) tokoh Siti Nurbaya hidup dan dibesarkan oleh ayahnya. Kehidupan ayah dan anaknya walaupun tidak diperantauan atau di luar daerah Minangkabau, namun masih dapat dipahami sebagai wilayah pesisir yang secara kultural diakui wilayah rantau juga. Apakah tokoh Siti Nurbaya hidupnya dikendalikan dan dipedulikan oleh ayahnya? Dia kawin dengan Datuak Maringgih bukanlah karena terpaksa tetapi dengan sukarela. Baginda Sulaiman tidak memaksa anaknya kawin, melainkan mengharapkan pertimbangan dan kerelaan Siti Nurbaya. Pada hakikatnya begitu pula pelukisan tokoh wanita Corrie dalam (SA) yang jelas-jelas disebutkan sebagai wanita keturunan Perancis, tetapi berprilaku sama dengan tokoh-tokoh wanita lain.
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ibu dapat mengendalikan kehidupan dan kepentingan ananknya. Sedangkan ayah tidak dapat berbuat demikian apadfa anaknya. Anak takluk dengan kepentingan ibunya tetapi tidak terhadap ayahnya. Baik pada kaba maupun novel jelas sekali bahwa ibu berperan dalam menetapkan norma-norma kehidupan bagi anak-anaknya, sedangkan ayah tidak mempunyai inisiatif sama sekali untuk kebutuhan anaknya dan membela kepentingan anaknya. Ibu mengendalikan perilaku kehidupan anak-anaknya, sekaligus menetapkan pula imbalan dan ganjaran bagi anak-anaknya. Maka baik atau buruknya kehidupan anak ditentukan oleh ibunya atau olehnya sendiri jika ia tidak beribu, dan bukan oleh ayaynya. Sehubungan dengan ayah pada sebagian besar tokoh tidak hidup bersama anak-anaknya, maka praktis kebutuhan metrial dan moral anak diusahakan dan dipenuhi sendiri oleh ibunya.
            Seorang ibu dalam mengupayakan cita-cita dan harapannya terhadap anaknya mempunyai beberapa tanggung jawab yang dilakukannya. Tanggung jawab utama adalah mendidik anak dengan bermacam pengatahuan dan keterampilan yang dikuasainya. Ibu sebagai pendidik tidak hanya terbatas menyangkut pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan rumah tangga. Tokoh ibu dalam kaba ANT menguasai semua keterampilan yang biasanya dikuasai para lelaki, seperti pengetahuan adat, agama, keterampilan bela diri, bercatur, berkuda, dan lain-lain. Pendidikan anak sepenuhnya tanggung jawab dari ibu, maka dengan demikian tokoh wanita dalam kaba dapat pula dinyatakan sebagai tokoh serba bisa.
            Tugas mendidik anak pada hakikatnya adalah tugas dan tanggung jawab ibu dan bukan ayah. Dalam kaba CM dan MD,  Bundo Kanduang dan Rangkayo juga berperan seperti itu, meskipun ia tidak melakukannya sendiri namun ia mencarikan guru untuk anaknya. Inisiatif ibu terlihat dari usaha untuk memajukan anak seperti pendidikan yang diminati anak, memberikan pertimbangan terhadap bidang pendidikan yang baik, mengupayakan bekal pendidikan anak, mencarikan guru yang tepat dalam bidang yang dipilih anak, dan mengantarkan anak ke tempat perguruan. Sementara itu ayah hanya merestui saja hasil kesepakatan antara ibu dan anak. Bukankah hal yang sama terdapat juga dalam novel SA di mana tokoh Hanafi berinisiatif mengupayakan pendidikannya anaknya. Tokoh Rafiah sungguhpun telah mengalami kegetiran hidup dirinya dengan Hanafi masih tetap bertekad membesarkan dan mendidik anaknya Syafei dengan caranya sendiri.
            Tokoh wanita yang berperan sebagai ibu terkesan sebagai wanita yang ambisius dalam menegakkan eksistensi dirinya sebagai penguasa rumah gadang. Ia berusaha membekali anaknya agar dirinya tidak dianggap sebagai wanita yang tidak mampu mengendalikan isi rumah gadang. Tujuan akhir adalah agar anak itu dapat melancarkan keinginannya dan menjaga keluarga agar tidak memalukan di mata orang lain. Seorang ibu akan bersikap welas asih, lembut, luwes, dan menghargai anak, jika anak itu menjadi orng yang terpandang di masyarakat dan tidak pulang ke rumah membawa malu. Seandainya anak pulang ke rumah dengan kegagalan dan kekurangan, akan disambut ibu dengan bengis, garang, dan memberikan hukuman dengan tegas tanpa memperhitungkan resiko terhadap anaknya tersebut. Demikianlah perlakuan tokoh Suto Sori terhadap Anggun nan Tongga dielu-elukan yang berhasil membawa mamak-mamaknya pulang dari rantau. Sebaliknya Anggun nan Tongga dicaci-maki dan diusir di saat pulang dari gelanggang keramaian dengan membawa malu ke rumah. Begitu juga dengan Bundo Kanduang terhadap Cindua Mato yang melarikan Puti Bungsu dengan menunggang kuda dari Sungai Ngiang ke Pagaruyuang.
            Dari penjelasan di atas maka terlihatlah bahwa keinginan ibu agar anaknya menjadi orang yang terkemuka dalam masyarakat. Ibu tidak menginginkan anaknya kalah dari anak orang lain Kekurangan seseorang dari orang lain merupakan malu ibu daripada malu anaknya sendiri. Oleh sebab itu, seorang ibu akan berupaya sewewenang dan sekemampuan yang dimilikinya, mulai dari cara yang demokratis sampai kepada cara yang otokratis.
            Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa ayah hanyalah pelengkap kehidupan rumah tangga, sedangkan pemegang peran utama adalah ibu. Ayah hanyalah simbol bagi ibu bahwa anaknya ada mempunyai ayang yang syah, sehingga ayah tidak berfungsi sebagaimana lazimnya orang tua bagi anaknya seperti saat ini. Maka dalam kaba wanita terutama yang berperan sebagai ibu menjadi tokoh sentral yang mempunyai idealisme, mandiri, penuh tanggung jawab, dan mempunyai sifat kepemimpinan, walaupun kadangkala terkesan ambisius dan sadis. Sebalikya laki-laki yang berperan sebagai ayah tergambar sebagai tokoh yang tidak punya inisiatif, lemah, dan tidak peduli dengan kehidupan keluarganya. Tokoh perempuan mempunyai rasa sosial, toleran dan bersifat dinamis walau hanya kepada anggota keluarganya, sedangkan laki-laki merupakan tokoh yang tersisih dan lebih bersifat statis di dalam keluarganya. Wanita merupakan tokoh yang tegar, mandiri, aktif, dan dinamis di lingkungan keluarganya, sebaliknya laki-laki merupakan tokoh yang lemah, pasif, statis, dan hidup di bawah- bayang-bayang wanita.

Penokohan wanita sebagai anak
            Usaha mengenali tokoh wanita sebagai anak baru terlihat nyata jika dibandingkn pula dengan laki-laki sebagai anak tentang sikap dan perilakunya di saat berhadapan dengan ibu dan ayahnya. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa orang tua yang dekat dengan anaknya adalah ibu, baik terhadap anak wanita maupun terhadap anak laki-laki. Sehingga anak berada dalm pengaruh dan kendali ibunya, dan secara psikis anak tidak terkait dengan ayahnya.
            Persamaan antara anak wanita dengan anak laki-laki adalah sama-sama takluk dan menghamba pada ibunya. Konflik antara anak dengan ibu jarang terjadi, sebaliknya konflik antara anak dengan ayahnya sering terjadi. Tokoh Puti Bungsu berani menyalahkan perilaku ayahnya Rajo Mudo yang semula menjodohkan Puti Bungsu dengan Dang Tuanku kemudian merencanakan mengawinkan Puti Bungsu dengan Rajo Imbang Jayo. Puti Bungsu rela lari dengan Cindua Mato saat akad nikah akan dilangsungkan.
            Perbedaan antara tokoh wanita dengan laki-laki sebagai anak adalah jika anak wanita tidak berani sedikitpun membantah ibunya, maka anak laki-laki  akan  melakukan
bantahan  walaupun ia akan gagal.  Anak laki-laki akan berusaha membela diri dengan kebenaran yang diyakininya. Sedangkan anak wnita hanya menerima salah dan pasrah terhadap ibunya. Perbandingan yang menyolok dalam hal ini adalah Siti Darma menerima pasrah keingan ibunya Siti Jamilah yang hendak membunuh dirinya. Sebaliknya Asamsudin berusaha membantah dan menghindar terhadap kemauan Siti Jamilah yang hendak membunuh dirinya.
            Dalam novel perbedaan prilaku anak laki-laki dan wanita ini juga menunjukan hal yang sama dengan prilaku dalam kaba. Tokoh Hayati ( TKW ) dan Rafiah ( SA ) tidak berani membantah keinginan ibu mereka yang memaksa kawin dengan pemuda yang tidak dicintai mereka tokoh Aziz  ( TKW ) dan tokoh Anafi berusaha dulu membantah keinginan ibunya yang memaksa kawin dengan tokoh Rafiah wanita yang tidak disukainya walaupun pada akhirnya ia gagal juga menetang kehendak ibunya  ( SA ).
            Perbedaan sikap dan prilaku tokoh wanita sebagai anak dengan sikap dan prilaku tokoh laki-laki dapat disimpulkan bahwa tokoh wanita akan sangat setia, patuh dan pasrah terhadap  kehendak ibunya, sebaliknya tokoh laki-laki akan bersikap korek dan mengalah kepada ibunya. Akan tetapi jika berhadapan dengan ayah, tidak ada perbedaan antara tokoh wanita dengan tokoh laki-laki,  keduanya sama-sama bebas dan leluasa terhadap ayah mereka. Kenyataan ini baik pada kaba maupun pada novel.  Kemerdekaan anak itu terlihat juga pada dasarnya dalam diri tokoh Siti Nurbaya ( SN ).Andam Sutan, Santan Batapih ( ANT ). Perbedaan  ini muncul karena tokoh wanita dalam kepatuhannya terhadap ibunya berdasarkan semata-mata dengan perasaan. Sedangkan tokoh laki-laki kepatuhan terhadap ibunya didasarkan pikiran dan perasaan. Pikiran menyebabkan ia mencoba  membantah, sedangkan perasaanya mengakibakan ia mengalah. Sementara itu jika ia berhubungan dengan ayah tidak ada ikatan emosional yang bersumber dari perasaan. Hubungan dengan ayah  semata-mata berdasarkan pertimbang rasional.
            Sebagai dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa ibu adalah penguasa  rumah tangga.  Sesuai dengan fitrahnya yang terbatas secara pisik, maka ia membagi tugas kepada anak-anaknya dalam arti anak adalah pelaksana kemaun ibu. Anak merupakan  perpanjangan tangan dari ibunya, baik anak wanita maupun anak laki-laki. Perbedaan pembagian tugas antara wanita dan laki-laki adalah jika anak wanita pelaksana dalam lingkungan rumah tangga, maka anak laki-laki merupakan pelaksana keingan ibu di luar ramah gadang . Berdasarkan peran anak maka terlihat dalam kaba bahwa tokoh wanita merupakan pelaksana kesemarakan keluarga di mata orang lain, sedangkan tokoh laki-laki sebagai benteng keluarga  dari ancaman orang lain. Prilaku anak baik  laki-laki maupun  perempuan adalah untuk mengokohkan eksistensi ibu sebagai penguasa rumah tangga 
            Pembagian tugas antara anak laki-laki dan wanita yang dibiasakan ibunya sejak kecil ini akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku mereka dalam peran-peran lainnya. Seperti anak wanita satu saat akan menjelma sebagai ibu atau istri yang berkuasa dalam keluarganya,  sementara anak laki-laki akan tetap sebagai orang yang asing dalam lingkungan  rumah  sungguhpun ia telah menjadi suami dan ayah nantinya. Dasar ini menyebabkan berlangsungnya budaya merantau bagi anak laki-laki tetapi tetap terikat dengan ibunya dan dalam  perwujutan lebih luas terikat kepada kampung halamannya.
            Tokoh wanita menguasai rumah sepenuhnya  sementara  pengarunya di luar rumah tersalurkan melalui anak atau saudara laki-lakinya. Sebaliknya tokoh laki-laki menguasai kehidupan  di luar rumah namun pengaruhnya tidak ada dalam lingkungan rumah. Keperkasaan tokoh Anggun Nan Tungga di gelanggang keramaian dan negeri orang tidak ada artinya jika berhadapan dengan tokoh Suto Sori  (ANT),  begitu pula dengan tokoh Cindua Mato yang tidak berdaya di hadapan Bundo Kanduang (CM),  tokoh Malin Deman di  hadapan Mandeh Rubiah (MD). Dalam kaba tokoh laki-laki berada di bawah  bayang-bayang wanita, baik wanita  itu ibunya maupun saudara perempuannya  bahkan akan terbiasa pula di hadapan istrinya.  Agaknya demikian  pulalah yang berlangsung terhadap tokoh laki-laki dalam novel  seperti tokoh Samsul Bahri,  Bagindo Sulaiman dan Datuak Maringgih tidak dapat memaksa keinginannya terhadap tokoh Siti Nurbaya ( SN ) ;  tokoh Hanafi terhadap ibunya, Rafiah dan Corrie;  tokoh Datuak Batuah terhadap saudaranya Ibu Hanafi ( SA ); tokoh Zainuddin dan Aziz terhadap Hayati (TKW ).    
 Penokohan Wanita sebagai Saudara
            Penokohan wanita dalam peran saudara dapat ditinjau dalam hubungannya dengan sudara wanita, dan dalam hubungannya dengan saudara laki-laki. Penokohan wanita sebagai saudara merupakan duplikat ibu jika ibu tidak ada dalam hal hubungannya dengan saudara laki-lakinya dan adik perempuannya. Sikap, perilaku, dan pandangan tokoh wanita yang identik dengan ibu itu terlihat pada tokoh Puti Ranik Jintan yang menasihati dan memberi pertimbangan terhadap keinginan kakak laki-lakinya Rajo Imbang Jayo yang hendak menuntut balas atas kematian bapaknya Tiang Bungkuk. Begitu juga Puti Bungsu dengan Cindua Mato ketika menggagalkan pesta pernikahan Puti Bungsu dengan Rajo Imbang Jayo (CM). Pada tokoh Ganto Pomai yang memberi tanggung jawab kepada adiknya Suto Sori (ANT).
            Dalam novel terdapat pula aaspek penokohan yang sama dalam hubungan persaudaraan ini. Tokoh Datuak Batuah dengan sukarela membantu adiknya Ibu Hanafi menyekolahkan Hanafi, walaupun dikemudian hari Datuak Batuah menagih janji untuk mengawinkan anaknya Rafiah dengan Hanafi. Janji yang sulit untuk ditepati oleh Ibu Hanafi tidak membuatnya menentang tetapi hanya meninggalkan adknya dengan merajuk (SA). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada penentangan terbuka dari tokoh laki-laki terhadap saudara perempuannya. Dengan demikian kecenderungan tokoh wanita sebagai saudara akan identik sikap, watak, dan perilakunya dengan tokoh wanita sebagai ibu, baik dalam kaba maupun dalam novel.
            Perbedaan penokohan wanita sebagai ibu dengan saudara adalah tingkat kesetiaan, ketoleranan tokoh laki-laki terhadap dirinya. Tokoh laki-laki sebagai anak akan lebih sukarela membantu ibunya dalam situasi diminta ataupun tidak. Akan tetapi, tooh laki-laki sebagai saudara baru akan memberikan bantuan saudara perempuannya jika itu telah diminta. Sebaliknya tokoh wanita sebagai saudara baru akan memotivasi, mengarahkan, ataupun membantu saudara laki-lakinya jika suatu masalah telah menyinggung martabatnya. Demikianlah yang terlihat pada tokoh Suto Sori yang baru memerintahkan anaknya Anggun nan Tongga untuk mencari dan menyelamatkan saudaranya Mangkudum Sati, Nangkodo Rajo, dan Katik Intan, setelah nasib ketiga saudaranya telah diketahui masyarakat banyak. Padahal sebelum itu ia tidak ada terniat dan berfikir untuk mencari ketiga saudaranya itu (ANT).
 Penokohan Wanita sebagai Istri
            Penokohan wanita sebagai istri cenderung egois karena pada hakikatnya laki-laki sebagai suami tidak diperlukan oleh wanita. Dalam kaba maupun novel terlihat bahwa tokoh wanita banyak hidup sendiri setelah mendapatkan anak dari suaminya. Misalnya tokoh Ameh Manah tidak mempedulikan nasib suaminya Nangkodo Rajo, ia merasa puas hidup berdua dengan anaknya Gondoriah; tokkoh Galinggang Layua tidak mempermasalahkan suaminya yang bertapa dan tidak pulang-pulang, ia pun puas hidup bersama anaknya Katik Alamsudin; tokoh Andami Sutan membiarkan suaminya Anggun nan Tongga pulang kampung meninggalkan dirinya karena ia telah mendapatkan anak Mandugo Ombak. Bahkan tokoh Suto Sori tidak merasa perlu untuk bersuami karena ia telah mendapatkan Anggun nan Tongga anak dari peninggalan kakak perempuannya Ganto Pomai (ANT).
Demikian pula dengan tokoh-tokoh wanita dalam novel, seperti Ibu Hanafi yang tidak mengeluhkan ketiadaan suami dalam hal mendidik dan membesarkan anaknya Hanafi; tokon Rafiah tidak perlu menghiraukan kepergian Hanafi dan bertekad sepenuhnya untuk mendidik dan membesarkan anaknya Syafei tanpa suami (SA); dan tokoh Hayati yang berusaha mencari dan merayu Zainuddin (TKW).
Tokoh wanita hanya memerlukan laki-laki sebelum ia mendapatkan anak. Untuk maksud itu adakalanya tokoh wanita bertindak di luar batas-batas norma, misalnya bersedia merebut suami orang yang dianggap terpandang sebagaimana Puti Lenggogeni yang mau saja dikawinkan dengan Cindua Mato meskipun Cindua Mato sudah beristri. Dalam novel tokoh Corrie yang terpelajar masih bersedia menerima Hanafi yang secara formal masih suami Rafiah (SA). Agaknya ini pulalah penyebab tokoh Siti Nurbaya (SN) dan Hayati (TKW) tetap berusaha mencari laki-laki bekas kekasihnya karena belum mendapatkan anak dari suami sebelumnya.
Dengan demikian tokoh wanita dalam kaba dan novel perode Balai Pustaka secara psikologis adalah laki-laki. Hanya secara fisiologis ia tetap wanita. Wanita tidak memerlukan laki-laki sebagai tempat berlindung untuk kebutuhan hidupnya. Tokoh wanita mampu berdiri di atas kemampuan dan kenyataan hidupnya sendiri. Ia tidak akan mengemis untuk mendapatkan harta kekayaan, karena ia memang telah menguasainya. Jika ia berkekurangan ia hanya akan memanfaatkan anak dan saudara laki-lakinya.
 Kesimpulan
Dari penjelasan di atas maka dapatlah dipetik kesimpulan tentang penokohan wanita, baik dalam perbandingannya dengan penokohan laki-laki maupun gambaran penokohan wanita itu sendiri.
1)      Penokohan wanita dalam kaba dan novel periode Balai Pustaka terpusat pada perannya sebagai ibu. Sehingga sikap dan perilaku wanita dalam berbagai peran –anak, saudara, istri- identik dengan kedudukan dan fungsi ibu.
2)      Penokohan laki-laki dalam kaba dan novel periode Balai Pustaka terpusat pada perannya sebagai anak. Sikap dan perilaku laki-laki dalam berbagai peran –saudara, suami, istri- identik dengan kedudukan dan fungsi sebagai anak.
3)      Secara fungsional hubungan antar peran yang melibatkan antara tokoh wanita dan laki-laki akan identik sebagaimana hubungan ibu dan anak. Tokoh wanita selalu berada dalam posisi “di atas angin” baik dalam hubungan suami-istri maupun persaudaraan.
4)      Tokoh wanita menunjukkan ciri idealis, pengendali, pendidik, kreatif, dinamis, aktif, penguasa, tegar, pantang kalah dan juga ambisius terhadap anggota keluarganya. Sedangkan tokoh laki-laki memperlihatkan ciri-ciri pasif, statis, pasrah, suka mengalah, lemah, dan lugu terhadap anggota keluarganya. Laki-laki baru bersifat dan berprilaku positif setelah ia berhadapan dengan orang lain.
5)      Perkembangan kaba dan novel yang ditulis oleh pengarang-pengarang etnis Minangkabau sebenarnya tidak mencerminkan emansipasi wanita, melainkan pergelutan tokoh laki-laki dalam usahanya melepaskan diri dari cengkraman wanita.
 Daftar Pustaka
Asri, Yasnur. 1996. Orientasi Nilai Budaya Tokoh Wanita Dalam Novel Indonesia. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Endah, Syamsuddin St. R. 1982. Cindua Mato. Bukittingi: Pustaka Indonesia
Hamka. 1982. Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Jakarta: Balai Pustaka
Hermawan. 1998. “Profil Wanita dalam Kaba: Suatu Tinjauan Sosiolgi Sastra”. Tesis S2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Mahkota, Ambas. 1982. Anggun nan Tungga. Bukittinggi: Pustaka Indonesia
Manggis, Rasyid. 1984. Malin Deman. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
Muhardi. 1998. “Dari Kaba ke Novel”. dalam Mursal Esten (ed). Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan. Bandung: Angkasa.
---------- Dan Hassnuddin WS. 1990. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: FPBS IKIP Padang
Muis, Abdul. 1988. Salah Asuhan. Jakarta: Balai Pustaka
Rusli, Marah. 1987. Siti Nurbaya. Jakarta: Balai Pustaka


  • · Sekretaris HISKI Komda Sumbar dan Staff Pengajar Jurusan Sastra Indonesia Univ. Bung Hatta